KEKUASAAN DI HIJAZ (Bagian 2: Kebangkitan Qushay bin Kilāb)
(Disarikan dari Kitab Ar-Raḥīq al-Makhtūm karya Ṣhafiyyur-Raḥmān al-Mubārakfūrī)
Oleh: Muhammad Rivan, M.Pd
1️⃣ Latar Belakang Kehidupan Qushay
Tokoh sentral dalam kebangkitan Quraisy adalah:
👤 Qusayy ibn Kilab
Ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Ibunya kemudian menikah dengan seorang lelaki dari Bani ‘Udzrah, yaitu Rabī‘ah bin Ḥarām, dan membawanya ke wilayah perbatasan Syam.
Qushay tumbuh jauh dari Mekkah. Ketika remaja, ia mengetahui asal-usulnya sebagai bagian dari Quraisy, keturunan Ismā‘īl a.s., lalu ia kembali ke Mekkah.
Saat itu, penguasa Mekkah adalah:
👤 Hulail bin Hubsyah dari Bani Khuzā‘ah.
Qushay kemudian menikahi putri Hulail, yaitu Hubba. Pernikahan ini kelak menjadi pintu masuk perubahan besar dalam sejarah Mekkah.
2️⃣ Awal Perebutan Kekuasaan
Setelah Hulail wafat, muncul perselisihan antara Quraisy dan Khuzā‘ah. Ada tiga riwayat utama mengenai sebab konflik:
Riwayat Pertama
Qushay merasa lebih berhak atas kepemimpinan Mekkah dan pengelolaan Ka‘bah karena:
Ia dari Quraisy (keturunan Ismā‘īl)
Memiliki kekuatan dan dukungan politik
Khuzā‘ah dianggap telah menyimpang
Ia menggalang dukungan Quraisy dan Bani Kinānah untuk mengusir Khuzā‘ah dan Bakar dari Mekkah.
Riwayat Kedua
Hulail disebut-sebut telah mewasiatkan agar Quraisy menangani urusan Ka‘bah setelah wafatnya.
Riwayat Ketiga
Abū Ghibsyan al-Khuzā‘ī—yang memegang kunci Ka‘bah—menyerahkan hak tersebut kepada Qushay dengan imbalan satu geriba arak. Transaksi ini ditolak Khuzā‘ah sehingga konflik pun pecah.
3️⃣ Perang dan Arbitrase
Qushay menghimpun pasukan Quraisy dan Kinānah. Khuzā‘ah dan Bakar juga bersiap. Terjadilah pertempuran sengit dengan korban di kedua pihak.
Akhirnya disepakati penyelesaian melalui arbitrase. Hakim yang ditunjuk adalah:
👤 Ya‘mar bin ‘Auf dari Bani Bakar.
Keputusan hakim:
Qushay lebih berhak memegang Ka‘bah
Darah yang tertumpah dari pihaknya menjadi tanggung jawabnya
Korban dari Khuzā‘ah dan Bakar wajib ditebus
Dengan keputusan ini, Qushay resmi menjadi penguasa Mekkah sekitar tahun 440 M (pertengahan abad ke-5 M).
4️⃣ Reformasi Besar Qushay di Mekkah
Kepemimpinan Qushay menandai transformasi besar:
✔ Quraisy menjadi penguasa tunggal Mekkah
✔ Kepemimpinan agama dan politik menyatu
✔ Struktur sosial menjadi lebih terorganisir
Ia melakukan beberapa langkah strategis:
🏛 A. Membangun Dār an-Nadwah
Qushay mendirikan:
🏛 Dar al-Nadwa
Letaknya di sisi utara Ka‘bah dengan pintu menghadap Masjidil Haram.
Fungsinya:
Tempat musyawarah politik
Pengambilan keputusan perang
Penetapan pernikahan bangsawan
Pengesahan kebijakan sosial
Ini merupakan embrio sistem pemerintahan kolektif di Mekkah.
🏘 B. Penataan Pemukiman Quraisy
Qushay:
Mengumpulkan Quraisy dari pinggiran
Menempatkan mereka di sekitar Ka‘bah
Membagi wilayah secara terstruktur
Ia menata ulang posisi suku-suku sehingga Mekkah menjadi kota terorganisasi, bukan sekadar perkampungan kabilah.
⚖ C. Konsolidasi Wewenang
Qushay memegang seluruh otoritas utama:
1️⃣ Kepemimpinan Dār an-Nadwah
2️⃣ Pemegang panji perang
3️⃣ Hijābah (penjaga kunci Ka‘bah)
4️⃣ Siqāyah (penyedia air bagi jamaah haji)
5️⃣ Rifādah (jamuan makanan bagi jamaah haji)
Untuk membiayai rifādah, ia menarik kontribusi dari Quraisy saat musim haji.
Ini menunjukkan sistem pajak sosial pertama di Mekkah.
5️⃣ Penyerahan Kekuasaan kepada ‘Abd ad-Dār
Qushay memiliki beberapa putra, di antaranya:
‘Abd ad-Dār
‘Abd Manāf
Secara sosial, ‘Abd Manāf lebih terpandang. Namun demi menjaga stabilitas, Qushay menyerahkan seluruh wewenang kepada putra sulungnya, ‘Abd ad-Dār.
Keputusan ini kelak memicu persaingan antara keturunan keduanya, yang akhirnya melahirkan dua blok besar Quraisy.
Dari garis ‘Abd Manāf inilah kelak lahir:
👤 Abd al-Muttalib
dan akhirnya
👤 Muhammad ﷺ
📚 Pelajaran Penting (Ibrah)
1️⃣ Politik yang kuat butuh legitimasi sosial dan agama
Qushay tidak hanya menang perang, tetapi:
✔ Menata kota
✔ Membangun institusi
✔ Mengatur ekonomi haji
Kekuatan tanpa sistem tidak bertahan lama.
2️⃣ Ka‘bah adalah pusat kekuasaan Arab
Siapa menguasai Ka‘bah, ia:
Memegang legitimasi agama
Memiliki pengaruh politik
Mengendalikan ekonomi haji
Islam kelak mengambil pusat ini untuk mengembalikan tauhid.
3️⃣ Musyawarah sudah dikenal sebelum Islam
Dār an-Nadwah menunjukkan:
Tradisi konsultasi sudah ada
Elite Quraisy terbiasa bermusyawarah
Islam tidak menghapus budaya baik, tetapi menyucikannya.
4️⃣ Kepemimpinan adalah soal strategi, bukan sekadar nasab
Qushay tidak otomatis berkuasa karena keturunan Ismā‘īl.
Ia:
Membangun koalisi
Menggunakan pernikahan sebagai strategi
Menghimpun kekuatan politik
Ini menunjukkan kecerdasan dan visi jangka panjang.
5️⃣ Persiapan Sejarah Menuju Kenabian
Reformasi Qushay menghasilkan:
✔ Kota Mekkah yang terstruktur
✔ Quraisy yang kuat dan disegani
✔ Sistem ekonomi haji mapan
Semua ini menjadi panggung lahirnya Nabi ﷺ dari keluarga terhormat yang telah memegang kepemimpinan Mekkah.














































